“IBU”

“IBU”

Oleh : fiki ferianto

Kata yang cukup sederhana tersusun dari 3 huruf tersebut telah menjadi bagian paling penting dalam perjalanan hidup setiap anak dimuka bumi ini. Ia hadir tatkala sang bayi belum mengetahui arti apa-apa tentang dunia, dengan tangan nan lembut serta dekapan yang hangat ia berusaha memberi penjelasan akan semua itu. Semua pun tahu seorang yang mulia hatinya ini mendidik anaknya dengan penuh suka cita dan kesabaran. Dikala buah hatinya menangis ditengah larutnya malam, ia pun bangun melawan rasa kantuk hanya untuk memberi sentuhan hangat kepada penyemangat hidupnya itu. Tak kenal lelah, usaha yang terbaik selalu diberikannya agar kelak anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan bisa menjadi kebanggaanya.

Jauh setelah itu, sekarang sang anak telah tubuh besar, gagah dan menawan. Ia tak mau lagi dipanggil dengan panggilan nama kecilnya dulu, karena mungkin kesan yang terbangun bahwa itu tak jaman lagi. Sebagai seorang ibu tentulah ia sangat mengerti akan kondisi anaknya, kadang rasa cinta yang teramat besar itu telah membuat ia  lupa akan kepentingan dirinya, bangun di pagi buta dan tidur hingga dipertengahan malam telah menjadi kebiasaanya untuk mengumpulkan apa yang menjadi kebutuhan sang buah hati. Itulah ia sang mentari pagi menyinari setiap sudut kehidupan anak dimuka bumi.

Sekarang wajahnya tak lagi muda, keriput telah Nampak sangat jelas hampir memenuhi seluruh tubuhnya dan ketika berjalan ia tak lagi tegap. Beban yang ia tanggung selama ini telah terlihat jelas dari kondisi tubuh yang renta itu. Namun kenapa ? setiap kali anaknya datang ia selalu berusaha tegar, seakan ia baik baik saja, Tak pernah lepas senyum itu dari wajahnya ketika melihat jagoannya telah kembali pulang. Bahkan terkadang langsung bergegas menyiapkan sarapan atau mungkin secangkir teh hangat untuk melepaskan kelelahan sang anak. Tapi apakah sang anak menanyakan kondisinya ?? tak usah dijawab karena sang ibu tak mengharapkan itu, ia tak tak pernah berfikir untuk meminta balasan dari apa yang telah ia lakukan selama ini. Itulah kesempurnaan seorang ibu yang mungkin masih belum disadari oleh setiap anak dibelahan dunia, mereka terlalu angkuh untuk memberikan kasih sayang kepada orang dengan segudang jasa bagi hidup mereka, mungkin juga terlalu sibuk hingga katanya tak ada waktu yang cukup untuk menghubunginya. Ingatlah bahwa hidup hanya sekali, ia pun akan pergi suatu waktu, tak ada yang tahu hingga waktunya tiba, maka tak ada lagi tempatmu menyandarkan kepalamu pada pangkuannya, tak akan ada lagi pelukan serta senyuman kasih sayang darinya kerena ia telah bersama sang pemilik yang mungkin lebih menyayanginya sepenuh hati. Sayangilah IBU dengan tulus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s